#RiniBabyJourney Part 01 - Tales from Long Distance Fertility Frenzy

Updated: Sep 4, 2018

#RiniYulianti #ProgramHamil #JurnalRIN #Bahasa #RINjourney #ProMil

#RiniBabyJourney Tales from Long Distance Fertility Frenzy

Haloo semua!

Akhirnyaaaa… setelah sekian lama ingin mulai mencoba blogging, untuk berbagi cerita dan pengalaman, akhirnya sekarang jadi juga dan… pas juga momennya memang ada pengalaman bahagia yang ingin sekali aku ceritakan - #RiniBabyJourney.

Tapi pengalaman bahagia ini, bukannya tanpa ‘perjuangan’ lho. Lumayan, hampir 3,5 tahun usahanya, mulai dari awal yang semangat, sampai sempat ‘break’ dulu, sampai mulai lagi, sampai pasrah, dan akhirnyaa…

Tapi sebelum aku mulai, kita perkenalan dulu ya. Aku Rini Yulianti, tepatnya Rini Yulianti Ha sejak 8 Juni 2014 lalu saat aku menikah dengan suamiku, Michael Ha. Mungkin nanti aku akan posting juga kisah mengenai perjumpaanku dengan dia. Tapi itu nanti dulu ya, hehe, sekarang yang penting ini dulu. Karena melalui pengalaman ini aku baru sadar, bahwa ternyata anugerah bayi itu tidak selalu mudah untuk didapat setiap pasangan, dan masih ada calon buibu lainnya di luar sana yang masih tengah berusaha untuk hamil. Semoga dengan berbagi pengalaman bisa membantu untuk semangat terus yaa :)

Jadi, setelah menikah, aku langsung cari dokter kandungan, untuk periksa supaya tahu segala sesuatunya tentang kondisiku untuk hamil. Aku percaya lebih cepat aku tahu kondisiku seperti apa, lebih baik. Maka dari awal aku sudah pergi periksa, dan pada awalnya aku pergi ke RS Siloam - Semanggi, Jakarta, karena RS itu dekat dengan tempat tinggal kami. Nah saat pertama periksa - waktu itu masih hanya periksa USG dulu - dalam satu hari aku bikin jadwal untuk USG sekaligus dengan 3 dokter! Hehehe. Jadi dari pagi aku nunggu dokter yang pertama, lalu berikutnya aku nunggu dokter kedua, dan selanjutnya dokter yang ketiga - seharian! Karena aku mau tau jelas kondisiku dan mau pilih betul mana dokter yang aku nyaman. Sedangkan saat itu aku sedang sibuk jadwal syuting juga, jadi pas ada hari yang sempat, sekalian saja aku coba semua dokter yang hari itu praktek. Hahaha. Tapi ternyata memang dari awal pemeriksaan dengan ketiga dokter tsb, belum ada dari ketiganya yang jodoh. Sebetulnya dokter ketiga yang perempuan aku merasa cukup nyaman, tapi sayangnya dia praktek hanya seminggu sekali di RS Siloam Semanggi dan selebihnya terlalu jauh untukku, di daerah Kebon Jeruk.

Berikutnya di lain waktu saat ada waktu lengang lagi, aku coba periksa ke dokter keempat di RS Siloam Semanggi, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Bersama dokter keempat ini karena aku merasa cukup nyaman, aku juga mulai periksa lebih lengkap, selain USG aku dan suami juga tes kesuburan [i], termasuk tes darah mengkaji kadar macam-macam hormon di dalam darah, tes Histerosalpingografi (HSG), dan suami pun ikut periksa tes sperma.

Tes HSG adalah tes yang dilakukan oleh dokter kandungan untuk mengevaluasi potensi kesuburan seorang wanita dengan prosedur X-ray yang terutama dilakukan untuk melihat bagian dalam rahim dan saluran telur (tuba fallopi dan uterus) yang merupakan bagian penting dari sistem reproduksi wanita. Biasanya memakan waktu kurang dari 5 menit, dan pasien akan dapat kembali ke rumah pada hari yang sama. Hasil X-ray yang diambil selama tes menunjukkan apakah ada kelainan pada uterus atau sumbatan atau pelebaran tuba fallopi [i]. Tes HSG ini dari pengalamanku agak tidak nyaman dan sedikit sakit, dan setelah selesai prosedur pun masih sakit tapi hanya beberapa jam. Keesokan harinya aku sudah tidak merasa sakit lagi.

Secara garis besar, alhamdulillah dari macam-macam tes kesuburan tsb, diketahui keadaan kami baik-baik saja. Namun saat itu memang kondisi aku dan suami sedang LDR (long distance relationship), karena Michael memang masih bekerja di Vietnam.

Sekitar tahun 2015 aku sempat berhenti dulu menjalani pemeriksaan ke dokter. Aku sibuk kerja syuting, dan suamipun sibuk kerja di Vietnam, jadi kami bawa enjoy saja dulu. Walaupun kami masih tetap berusaha, kami tidak terlalu memaksakan waktu untuk bolak-balik periksa ke dokter.

Rini Yulianti dan Michael Ha naik perahu di Vietnam
Juni 2016. Buka Puasa Ramadan - Hanoi, Vietnam.

Kira-kira 1.5 tahun jalan nikah, sekitar awal tahun 2016, Michael masih di Vietnam dan kami masih bolak-balik Jakarta-Vietnam, kami mendapat beberapa rekomendasi dari teman untuk mencoba menemui dr. Dario Turk SpOG yang praktek di RS Medistra, kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dari hasil aku baca-baca cari informasi sendiri di internet pun sepertinya dokter ini bagus maka aku jadi cukup tertarik untuk pergi mencoba menemui dokter yang menjadi dokter kandungan kelima kami ini. By the way, dr. Dario Turk, SpOG ini adalah dokter kandungan yang membantu bayi tabung untuk Inul Daratista. Nah setelah konsultasi, aku pun merasa sangat nyaman dengan dokter ini, merasa cocok konsultasi dengan dia, dan cara berbicaranya juga enak serta apa adanya. Aku bawa hasil tes-tes yang terdahulu yang sudah pernah dilakukan dan ada sebagian hasil analisa dr. Dario dari situ yang memberi aku harapan lebih positif yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya dari dokter lainnya. Ke dr. Dario ini aku juga mulai minta tambahan obat hormon untuk membantu kesuburan, karena sudah setahun lebih mencoba dengan normal dan belum memberi hasil, dengan harapan supaya semoga lebih cepat saja. Suamipun diberi obat hormon juga.

Dokternya sempat bilang, “Kalian ini, bertemunya saja susah, dan ketika bertemu pun belum tentu kamunya sedang masa subur - bagaimana kamu mau hamil...” Iya juga, memang benar, hehehe.

Maka untuk membantu keadaan kami saat itu yang LDR dan jarang-jarang bertemu, kami diberi bantuan obat hormon. Selagi rajin-rajinnya minum obat hormon dari dokter itu, setiap aku mau pergi ke Vietnam mengunjungi suami, aku suka pergi ke dokter untuk periksa dulu, apakah telur aku sedang bagus atau tidak, ini berhubungannya sebaiknya bagaimana, aku rajin konsultasi untuk apa yang sebaiknya bisa aku lakukan. Tapi ya begitulah, memang saat itu belum waktunya diberi hasil, sepertinya terutama juga karena keadaan jauhnya suami.

Hanoi Opera House, Veitnam.
Halong Bay, Vietnam.

Selama minum obat hormon, aku merasakan perbedaan mood swing yang ampun-ampunan naik-turun banget, bisa tiba-tiba sedih, atau tiba-tiba marah-marah nggak jelas. Kalau kita sedang datang bulan saja normalnya bisa moody begitu saat PMS, apalagi kalau sedang minum obat hormon! Nah, dan sudah begitu, suami pun jauuuh, jadi itu kalau lagi kangen-kangennya, OMG… hahaha.

Lalu aku merasa timbanganku mulai naik. Jadi aku perlu imbangi dengan berolahraga. Dokternyapun memang rekomendasi begitu. Maka kalaupun berat badannya ada kenaikan, naiknya masih dalam batas normal, tidak drastis. Apalagi waktu itu aku masih sibuk syuting. Normalnya saja, saat kita di kamera itu terlihat seperti tambah 5 kg, jadi kalau aku naik sedikiit saja, itu langsung kelihatan! Pipinya bisa langsung terlihat nyata naiknya, ehehe.


Ada sekitar setahun kami jalani bersama dr. Dario. Tapi tidak rutin dalam setahun itu aku selalu minum obat hormonnya. Karena itu tadi setelah merasa ada perubahan emosi dan untuk menjaga berat badan, kadang aku stop dulu. Berat badan yang berlebihan ataupun berat badan yang kurang merupakan dua kondisi yang sama-sama tidak sehat dan kurang baik untuk kesuburan [ii]. Apalagi aku pikir juga aku minum-minum obat terus-terusan sedangkan lebih banyak waktu kondisi kami dimana Michael-nya kebanyakan jauh… Sementara emosi aku juga tidak terkontrol, maka kadang suka break jugalah aku minumnya.

Alhamdulillah di tahun 2016 akhir, Michael pindah ke Jakarta setelah masa kerjanya di Vietnam berakhir di Oktober 2016.

Ada satu hal yang aku kurang bisa menyesuaikan dengan dr. Dario, yaitu antri pasiennya yang ampun-ampunan. Dr. Dario hanya praktek jam malam di RS Medistra, pukul 19:00 - 20:00 baru mulai praktek dan dokter biasanya datang sekitar pukul 21:00. Karena ramainya antrian, biasanya aku baru dapat waktu bertemu larut malam sekitar pukul 23:00 - 23:30. Capai sekali kan, dan aku pikir, bagaimana nanti kalau saat aku hamil, misalnya kalau sedang hamil besar atau saat ada kondisi tertentu, dan harus begadang hanya untuk menemui dokter?

Pernah suatu ketika aku sedang telat datang bulan, dan ketika datang ke dr. Dario ramai sekali antriannya, sampai tengah malam, sementara badan aku waktu itu lagi kecapaian banget, dan baru dapat bertemunya sekitar pukul 24:00.

Keesokan harinya aku bilang ke Michael, "Wah sepertinya aku harus ganti dokter nih. Kalau aku sekarang sedang hamil,... gimanaa?"

Januari 2017. Aqiqah keponakanku Abigail Cattleya. Foto Atas: Bersama kakakku, Ririn Ekawati. Foto Bawah: Ki-ka. Rini &Cattleya. Jasmine & Cattleya. Michael & Cattleya.



Begitulah sampai akhirnya kami bertemu dengan dokter yang keenam dan yang terakhir kami jalani sampai saat ini, yaitu dr. UF Bagazi, SpOG di RS Brawijaya Women & Children Antasari, mulai dari sekitar bulan Oktober 2017.

Sebenarnya sudah agak lama juga aku mendengar tentang dokter ini. Dan ya begitulah yang namanya rezeki. Jadi pada awalnya sebenarnya temanku sudah mencoba buatkan jadwal janji bertemu seorang dokter kandungan di RSPI. Tapi sudah 2 bulan dicoba bikin janji dengan dokter tsb, belum bisa-bisa dapat waktu yang cocok. Disaat bisa, aku sedang datang bulan. So, nggak match banget kan. Jadi aku pikir, wah bukan jodoh aku ke dokter ini.

Setelah itu aku langsung telepon ke RS Brawijaya - Antasari untuk coba bikin janji dengan dokter berikutnya yang ada di catatanku, yaitu dr. UF Bagazi, SpOG. Memang dari sebelumnya aku sudah punya catatan beberapa dokter kandungan bagus rekomendasi teman-teman. So, waktu telepon ke RS Brawijaya, karena suami kerja kantor, aku cari jadwalnya sebisa mungkin pasti di akhir minggu. Waktu tanya-tanya jadwal, katanya, oh iya ada di hari Sabtu. Aku bilang, oh OK, pas banget ini jadwalnya! Dan dokternya memang ada jadwal praktek setiap hari disitu, kecuali hari Minggu.

Lalu aku datang kesana, konsultasi dengan dokternya, dan aku langsung saja bilang:

“Dok, aku sudah married 3 tahun, dan kita kepingin cepat, tolong kasih kami obat hormon apapun yang dokter punya supaya aku cepat hamil!” Hehehe.

Dokternya juga malah tertawa, “Okay, tapi kita coba yang normal dulu ya.”

Dia mau lihat dulu sel telur aku bagaimana, so… waktu aku mulai di bulan Oktober 2017 itu aku belum dikasih obat sama dia, mau dilihat dulu telur aku bagaimana tanpa obat hormon.


Dan setelah dia lihat, cek USG,

“OK kok, nggak ada masalah apa-apa.” dan dr. UF juga sudah lihat dari hasil tes yang sebelumnya yang setiap bertemu dokter baru pasti dari awal aku langsung bawa dan tunjukkan ke dokternya.

Bulan berikutnya, baru dr. UF mulai kasih obat hormon, dan obatnya berbeda dari yang dikasih sebelumnya oleh dr. Dario.

Nah, tapi ini bukan hanya soal obat hormon. Semenjak menjalani #promil, mulai 2015 secara bertahap aku sudah mulai berusaha merubah pola hidup menjadi lebih sehat. Olahraga yang yang biasanya jarang, menjadi lebih teratur. Makananku, pola hidupku, mulai dirubah.


Sarapan pagi yang biasanya aku suka skip jadi selalu sarapan. Jadi aku mencoba hidup lebih sehat [ii]. Walau kadang masih suka bandel, hehe, tapi paling nggak sudah ke arah yang lebih baik lah.

Apa saja yang sudah aku coba untuk merubah pola hidup menjadi lebih sehat, mulai dari minuman, makanan, olahraga yang dicoba selama promil, serta usaha lainnya untuk mencoba hidup lebih seimbang, nanti ikuti lagi lanjutannya di blog berikutnya #RiniBabyJourney Part 02 Eat, Pray, Love, and Harmony yaaa...

Follow IG @thebabyinc atau socmed kami lainnya untuk selalu mendapat update posting baru di Baby Inc. blog. Daftar juga ya jadi member untuk akses dan menjadi anggota situs ini, dan dapatkan seasonal newsletter update dari kami. Kami menghormati dan menjaga privasi data Anda dan hanya mengirimkan update penting dan seperlunya saja.

Stay tuned! :)

************************************************************** *Ini bukan artikel bersponsor.

Referensi dan/atau bacaan selanjutnya:

[i] Tes Kesuburan / Fertility Tests

Fertility Tests for Women | Webmd.com Going to the Infertility Doctors, Your doctor will probably ask you both about, Your doctor will also want to ask about a woman's gynecologic history and ask you, Blood Tests and Semen Analysis, Other Tests and Procedures

Fertility Testing | Reproductivepartners.com When to Test for Infertility, What is Fertility Testing, The Tests, How Long Does Fertility Testing Take

Female infertility | MayoClinic.org Overview, Symptoms - When to see a doctor, Causes, Risk factors, Prevention, Diagnosis, Treatment, Fertility restoration: Stimulating ovulation with fertility drugs, Risks of fertility drugs, Fertility restoration: Surgery, Reproductive assistance,

6 Tes Kesuburan Yang Dijalani Untuk Menentukan Infertilitas Wanita | Ledisia.com

Alat Tes Kesuburan Pada Organ Reproduksi Perempuan | Alodokter.com

[ii] Pola Hidup Sehat / Healthy Lifestyle

Menjaga Pola Hidup Sehat untuk Cepat Hamil | Infosehatwanita.com

Female fertility: Why lifestyle choices count | MayoClinic.org Medical Disclaimer: Seluruh informasi yang ada di situs ini TIDAK dimaksudkan atau untuk memberi implikasi agar menjadi saran medis, diagnosis, atau perawatan. Untuk semua itu perlu konsultasi dengan dokter Anda atau penyedia layanan kesehatan yang tepat. Informasi ini hanya disediakan sebagai sumber informasi dan TIDAK dapat diandalkan untuk tujuan diagnostik dan perawatan. Ini TIDAK dimaksudkan sebagai pendidikan pasien, dan BUKAN pengganti diagnosis dan pengobatan profesional serta TIDAK pula untuk membentuk hubungan dokter pasien.

Baby Inc. adalah sebuah situs konsep keluarga - blog yang dikurasi seputar dunia bayi, anak-anak, dan kehidupan keluarga. Koleksi kumpulan gagasan, inspirasi, cerita, gaya, kreativitas, kesejahteraan keluarga, dan lainnya.

Baby Inc. is a concept family site - a curated blog in the world of baby, kids, and family life. Collections of ideas, inspirations, stories, tips, style, creativity, wellbeing, and more.

EN
ID
SEARCH SITE
FOLLOW US
  • Black Twitter Icon
ARE YOU ON THE LIST

Only for Important Updates and Seasonal Newsletter. 

© 2018 Baby Inc. All rights reserved.

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon